Surat Keterangan Sehat Jiwa

Siapa yang mau membuat surat keterangan sehat jiwa? Biasanya surat ini diperlukan untuk persyaratan melamar pekerjaan, mendaftar sekolah, menduduki suatu jabatan, dll. Sehat itu kan terdiri dari sehat jiwa dan raga, jadi wajar saja bila kesehatan jiwa pun juga harus diperiksa. Bahkan slogannya “men sana in corepore sano” artinya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, kesehatan jiwa sangat mempengaruhi kesehatan tubuh.

Di Palembang, surat keterangan sehat jiwa bisa dilakukan di RS Bhayangkara dan RS Ernaldi Bahar. Aku memilih mengikuti tes kesehatan jiwa di RS Ernaldi Bahar, karena di RS Bhayangkara pemeriksaan kesehatan jiwa tidak dilakukan setiap hari, hanya pada hari tertentu saja.

Dahulu, RS Ernaldi Bahar berlokasi di KM 6 Palembang, aku sempat merasakan magang di sana sekitar 5 minggu pada tahun 2007. RS Ernaldi Bahar saat ini berlokasi di daerah KM 12 Alang-Alang Lebar. Rumah Sakit ini luas sekali lho, lingkungannya lumayan bersih dan asri. Saking luasnya kalau mau berkeliling rumah sakit ini, rasanya lebih enak naik sepatu roda atau sepeda.

Nah, kalau mau membuat surat keterangan sehat jiwa, kalian cukup mencari bangunan poliklinik rawat jalannya. Tidak sulit koq, karena tidak terlalu jauh dari gerbang RS tersebut.

20171006_074454

Bagian Rawat Jalan RS Ernaldi Bahar

Sama seperti tahapan pembuatan surat-surat lain, awalnya kita harus mendaftar dahulu di loket pendaftaran. Pilihannya bisa mendaftar pribadi alias membayar sendiri, atau menggunakan asuransi kesehatan seperti Kartu BPJS/KIS/Jamkesmas/ASKES/Jamsoskes. Menurutku, aku sudah datang dari pagi, tapi ternyata antrian yang ada sudah menumpuk.

20171006_074103

Nomer antrian berdasarkan tipe pembayaran

Oya, kenapa aku juga mengambil antrian JKN? Karena aku terdaftar sebagai peserta ASKES, aku berfikir mungkin saja pelayanan kesehatanku hari ini tercover oleh BPJS. Tapi ternyata tidak bisa. Pembuatan surat keterangan sehat Jiwa tidak ditanggung oleh BPJS. Kalau tidak salah, biaya pembuatan surat keterangan sehat jiwa sekitar Rp. 400.000,-. Sebelumnya membuat kartu berobat dan membayar biaya konsultasi Dokter Ahli Kejiwaan sekitar RP 150.000,-.

20171006_090343

Antrian di Poliklinik

Selalu budayakan antri ya, supaya tertib. Sembari menunggu giliranku dipanggil untuk diperiksa, aku mendengarkan penyuluhan kesehatan dari anak-anak STIKES yang sedang magang di RS tersebut. Karena menjadi pendengar yang baik, aku mendapat souvenir botol minum, hehe. Alhamdulillah.

20171006_085724

Pemeriksaan Kesehatan

Setelah diperiksa Berat Badan dan Tekanan Darah, aku dipanggil masuk ke ruang dokter ahli kejiwaan yaitu dr. Hj. Latifah, SpKJ. Setelah ngobrol sebentar, aku diminta untuk naik ke lantai dua, tempat pemeriksaan psikotestnya.

20171006_091404

Ruang Poliklinik Psikologi

Saat itu cuma aku sendiri yang mengikuti tes. Kalau tidak salah ada tiga jenis tes psikologi yang diujikan, masing-masing tes diberi waktu. Saranku ketika mengikuti tes kejiwaan seperti ini, kerjakan saja dengan tenang, tidak perlu terburu-buru, jangan gugup karena tes ini bukan tentang salah atau benar. Jangan lupa makan/minum dan buang air sebelumnya, agar bisa lebih berkonsentrasi.

20171006_092520

Setelah selesai mengerjakan tes, aku diberitahu bahwa hasilnya akan selesai sekitar 4-5 hari ke depan. Jadi saranku lagi, kalau butuh surat keterangan sehat jiwa ini baiknya dikerjakan terlebih dahulu, agar tidak menghambat pengumpulan berkas-berkas kalian.

 

Iklan

Surat Keterangan Sehat di RS Bhayangkara Palembang

Berkas selanjutnya yang perlu dipersiapkan adalah surat keterangan sehat dan surat bebas narkoba. Sebenarnya aku bisa membuat surat keterangan sehat di tempatku sendiri, namun bila untuk kepentingan resmi, surat keterangan sehat disarankan dari lembaga/instansi kenegaraan yang resmi. Aku memilih RS Bhayangkara karena lokasinya lumayan dekat untukku.

20171005_070842

Loket Pendaftaran RS Bhayangkara

Hari itu aku datang lebih pagi, karena aku tidak mau terjebak antrian yang panjang seperti saat pembuatan SKCK. Aku mendapat nomor antrian 3.

20171005_070837

Nomor Antrian

Setelah dari loket pendaftaran, aku menuju kasir untuk membayar biaya pembuatan surat keterangan sehat dan surat keterangan bebas narkoba. Biaya pembuatan surat keterangan sehatnya Rp 20.000,-. Biaya pembuatan surat keterangan bebas narkoba Rp. 150.000,-.

20171005_074004

Kasir

20171005_074209

Kwitansi pembayaran biaya pemeriksaan di Kasir

Setelah membayar biaya pemeriksaan tadi, aku pergi ke laboratorium. Aku mendapat wadah untuk menampung urine guna diperiksa kandungan narkoba di dalamnya.

20171005_070855

Laboratorium Kesehatan RS Bhayangkara Palembang

Setelah dari laboratorium, aku pergi ke ruangan pembuatan surat keterangan sehat. Lokasinya tidak jauh dari loket pendaftaran dan laboratorium ya. Berbeda dengan pengalamanku pada tahun 2009 lalu, lokasi pemeriksaan kesehatannya berada di lantai atas Ruang UGD RS Bhayangkara.

20171005_080104

Sayangnya tidak ada pemeriksaan kesehatan di sana. Aku hanya diminta mengumpulkan berkas saja di ruangan tersebut, dan aku diminta datang kembali pada siangnya untuk mengambil surat keterangan sehat yang telah jadi.

20171006_073031

Surat Keterangan Sehat

20171006_073054

Surat Keterangan Bebas Narkoba

Keesokan harinya, aku baru bisa datang kembali ke RS Bhayangkara Palembang guna mengambil kedua surat tersebut. Alhamdulillah hasil pemeriksaan narkobaku baik. Hehe.

Semoga RS Bhayangkara semakin baik dan profesional lagi pelayanannya di masa yang akan datang. Amin.

SKCK di Palembang

Berkas-berkas yang harus disiapkan para pencari kerja cukup banyak. Diantaranya adalah berkas identitas seperti KTP, KK, KTP Sementara, Buku Nikah, SKCK, Surat Keterangan Sehat Jiwa dan Rohani, Surat Keterangan Bebas Narkoba, dll. Aku pernah menyiapkan berkas-berkas tersebut pada tahun 2017 yang lalu. Kenapa saat ini aku mengumpulkan kembali berkas-berkas tersebut? Karena aku hendak mengajukan mutasi. Namun sayang, niatku belum bisa terlaksana hingga sekarang.

Adapun tahapan yang sempat aku lewati kemarin adalah pembuatan SKCK atau Surat Keterangan Cakap Kelakuan dan Kartu Kuning. Pertama kali aku pergi ke Polda Sumsel yang berada di Jalan Jendral Sudirman, ruangannya berada di lantai 2.

20171004_092229

Pintu Masuk Ruangan Pembuatan SKCK di Polda Sumsel

Setelah masuk ke dalam, ternyata aku salah tempat. Aku disarankan oleh petugas di sana untuk membuat SKCK di Polrestabes Palembang yang berada di Daerah Jakabaring. Sebelum pergi melanjutkan perjuangan, aku sempat mendokumentasikan alur untuk pembuatan SKCK. Siapa tahu bisa membantu kalian yang membutuhkan. Ada persyaratannya juga ya, diantaranya Pas Photo berwarna, Akte kelahiran, KK, KTP, Identitas lain, dan Kartu Sidik Jari.

20171004_092318

20171004_092326

Saat membaca alur di atas, aku baru menyadari bahwa masih ada berkas yang belum aku perbanyak. Di Kantor Polda Sumsel ada Toko Alat Tulis dan Photocopy ya, letaknya di dekat parkiran.

Hari itu juga aku pergi ke Polrestabes Palembang di Daerah Jakabaring. Lokasi pembuatan SKCK ternyata satu gedung dengan pembuatan Kartu SIM dan Kartu Sidik Jari. Di Gedung Dharana Lastarya namanya.

20171004_135931[1]

20171004_132250[1]

Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu

20171004_121159[1]

Denah Polrestabes Palembang

Di sana sudah banyak orang yang datang dan menunggu antrian. Akupun mencari lokasi untuk pendaftaran pembuatan SKCK, ternyata lokasinya ada di sebelah kiri ruang tunggu untuk calon pembuat SKCK. Disana terdapat formulir yang harus kita isi. Setelah menulis formulir pendaftaran, berkas dikumpulkan di meja dan kita tinggal menunggu antrian untuk diperiksa. Oya, sebelumnya jangan lupa mengambil nomer antrian ya, tempatnya sama dengan tempat pengumpulan berkas yang sudah kita tulis tadi.

20171004_111041

Antrian Pembuat SKCK di Polrestabes Palembang

20171004_111811

Berkas SKCK dan Sidik Jari

20171004_130148

Tiket antrian SKCK

20171004_121441[1]

Tempat Pendaftaran Antrian dan Pengumpulan Berkas SKCK yang sudah lengkap

Sembari menunggu, aku juga mendokumentasikan standar pelayanan SKCK dan sidik jari. Silahkan dibaca syaratnya bila ada yang membutuhkan.

20171004_110939

Standar Pelayanan SKCK

20171004_110925

Standar Pelayanan Sidik Jari

Antriannya lumayan panjang. Saranku, kalau kalian mau membuat SKCK ataupun berkas lain seperti SIM dan Sidik Jari, berangkatlah lebih pagi agar tidak menunggu terlalu lama. Sembari menunggu dipanggil untuk diperiksa di dalam, kalian bisa makan di warung sekitar dan sholat di masjid yang ada di Lingkungan Polrestabes tersebut.

20171004_130204[1]

Nomer antrian bisa dilihat di layar ini.

Begitu tiba nomor antrianku dipanggil, akupun masuk ke dalam ruangan SPKT tersebut. Ternyata setelah di dalam pun aku masih harus duduk menunggu giliran kembali. Bersama antrian untuk pembuatan SIM dan Sidik Jari.

20171004_121521

Suasana Antrian di dalam SPKT

Setelah diperiksa di dalam, akupun menunggu kembali di ruang tunggu awal berkas SKCK yang telah dibuat. Setelah berkasnya selesai, kalau mau diperbanyak untuk arsip bisa kalian fotokopi di tempat fotokopi dan langsung legalisir ya.

Kesan yang aku dapat, pelayanannya sudah cukup baik dan tertib. Hanya saja masih terdapat oknum yang menurutku membuat kinerja Polrestabes ini kurang baik, karena saat itu ada satu oknum yang menawarkan untuk “tembak langsung jadi” tanpa mengikuti tahapan dan aturan yang berlaku. Semoga kinerja Polrestabes Palembang dan POLRI makin baik lagi ke depannya. Amin.

Sekian ceritaku mengenai pembuatan SKCK di Polrestabes Palembang. Semoga bermanfaat.

Our very first met….

Kencan pertama yang bikin deg-deg-an. Believe me, i hate when i have to go to the hospital. Tapi, mau ga mau, mesti kudu harus cek ke RS untuk mastiin hasil garis 2 dari  “Woman Choice” yang dibeli oleh si bapak. Setelah cari-cari info tentang dokter sepog dan rumah sakit yang ramah anak, terpilihlah mereka-mereka yang terpilih. Apalaaah. 

Setelah nangkring cukup lama sampe hampir magrib, akhirnya dipanggil untuk masuk ruang periksa. Cerita-cerita sebentar, terus disuruh naik ke pelaminan deh, eh ke tempat tidur untuk diperiksa. 

Makin dag-dig-dug. Semua diagnosis banding amenorea yang serem-serem tambah rajin seliweran di kepala. Senyum manis mbak sepognya ga bikin galau terhalau. Mana periksanya ga pake ulekan yang di perut pula. Ouch. Dag-dig-dug-dag-dig-dug.

Hey, hello my dearest. ♡

Jumpa pertama yang langsung bikin terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, tenggelam dalam lautan, tarak dung cesss. Doooh, malah ngelindur. Ternyara ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama alias love at the first sight. I love you, my tiny little one. Cuma liat chorion length sama yolk sack aja yg ga sampe 1 cm tapi senengnya sampe berjuta-juta tahun cahaya. Apalaaaah satuannya. Ckckck. Tapi beneran bahagia, ga bisa diungkapin dengan kata-kata. Alhamdulillah, segala puji bagimu ya Allah, maha pengatur terbaik. Semoga sehat selalu, kelak menjadi anak yang sholeh, pembawa surga untuk keluarga. Amiin yaa robbal ‘alamiin. *lap air mata n ingus*

Tilang dan Sidang..

Pagi itu aku hendak ke suatu tempat, bersama kakak perempuan dan keponakanku. Seperti biasa, aku mengendarai halomku yang ganteng tapi jarang mandi. Tiba di jalan lintas daerah Jembatan Musi II kami bertemu dengan rombongan polisi yang sedang melakukan razia. Razia besar-besaran nih pikirku. Halom pun mendapat giliran di periksa oleh pak polisi.

“Selamat pagi, bisa lihat surat-suratnya?” sapa Pak Polisi ramah.

IMG_20150529_152826.1jpg

Saat itu safety belt-ku terpasang dengan baik, sehingga pak polisinya tidak mempermasalahkan hal tersebut. Aku pun menunjukkan SIM dan STNK milikku untuk diperiksa. Karena tidak ada yang bermasalah dari 2 surat tersebut, pak polisi tersebut lalu menanyakan tentang KIR. Deg, aku sadar penuh kalau saat itu KIR halom sudah kadaluarsa selama 1 bulan. Kelalaianku yang membuat aku tidak kunjung sempat memperbaruinya. Akhirnya pak polisi tersebut menyuruhku untuk turun dari mobil dan mengurus surat tilangku. Hiks.

IMG_20150529_152819

Sepengetahuanku, KIR mati adalah ranah milik DLLAJ bukan milik kepolisian lalu lintas. Tapi, aku mencoba menjadi warga negara yang taat peraturan, aku mengikuti instruksi dari pak polisinya. Aku diberi tahu kalau kesalahanku adalah mengendarai mobil yang KIR-nya sudah kadaluarsa, kemudian SIM-ku ditahan dan aku diberi surat tilang berwarna merah.

Aku memberanikan diri untuk bertanya, “katanya kalau tahu kesalahan dan berencana akan memperbaiki kesalahannya, bisa mendapat surat tilang berwarna biru ya, Pak? Surat tilang warna merah adalah untuk yang tidak mengakui kesalahan dan bertindak melawan pihak kepolisian, bener gitu pak?”

Pak Polisi menjawab, “surat tilang merah dan biru itu sama saja, bedanya adalah warna biru pembayaran denda di Bank yang telah ditunjuk, dan warna merah di Pengadilan. Kalau bertindak melawan pihak kepolisian, pada surat tilang warna merah akan diberi tanda silang”.

“Ooo, gitu ya pak. Kalau gitu, saya dapat surat tilang warna biru ya?” tanyaku lagi.

“Sama saja mbak, karena di sini belum ada Bank yang bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk mengurusi masalah denda tilang ini. Mbak masih tetap harus melewati pengadilan terlebih dahulu.” pak polisinya mulai sebel karena kengeyelanku.

“bapak namanya siapa?” aku sok berani nanyain nama pak polisi penilangku yang sedang sibuk menulis surat tilang berwarna merah.

“….wasweswos…” jawab pak polisi pelan, sampai aku tidak bisa mendengar jelas namanya atau mungkin si bapak ngedumel sebel dengan tingkahku.

Saat itu aku sedang ingin sekali mendapat pencerahan tentang surat merah biru itu, namun sepertinya pak polisinya mulai tidak nyaman dengan sikapku. Maaf ya bapak.

Akhirnya, pak polisi bertanya lagi, “jadi mbak mau yang mana, merah atau biru?”

Lha lha lha, aku jadi bingung. Koq pak polisinya malah balik nanya prosedur penilangan sama aku. Hehe. “Ya terserah mana yang baiknya pak,” jawabku seadanya.

“Ini surat tilang birunya, tapi nanti jangan salahin saya kalau sampai mbak bingung mau cari Bank untuk bayar dendanya dan SIM punya mbak ga jelas disimpan di mana.” Pak polisi menjelaskan dengan ogah-ogahan.

Aku jadi sedikit takut, wah bisa repot urusannya kalau benar apa yang dibilang oleh pak polisinya. Semoga saja tidak, kalau memang harus SIM-nya melayang biarin aja lah, pikirku pasrah.

Setelah dilepas (emangnya ayam) pak polisi, aku malah bingung, ini trus jalannya ke mana, mesti ngapain. Begonya bukan main kalau soal seperti ini. Haha. Akhirnya ya aku menertawakan diriku sendiri.

Mencoba mencari Blue’s Clues di surat tilang biru yang kuterima, akhirnya aku berhasil berhasil berhasil menemukannya (dora the explorer wannabe, ahaha). Aku harus datang ke persidangan di pengadilan negeri satu minggu kemudian. Okelah kalau begitu, karena cluenya cuma satu itu, mari kita ikut sidang. Jreng-jreng-jreng.

IMG_20150529_092647

Ini dia pengadilan negeri palembang. Seumur hidup baru satu kali ini datang ke sini, semoga ga ada kali kedua. Untuk yang belum tahu lokasinya di mana, Pengadilan Negeri ini berada di jalan Kapten A. Rivai, bersebelahan dengan kantor Kejaksaan Tinggi dan Telkom.

Kalau dilihat dari jadwal sidang di surat tilang, sidang mulai pukul 09.00. Aku tiba di sana pukul 08.00, masih sepi hanya aku sendiri di ruang sidang tilang. Semakin siang, semakin banyak orang yang berdatangan. Semuanya membawa surat tilang MERAH. HAHAHAHAHAHAHA. Aku lagi-lagi menertawakan diriku sendiri. Tuh, gara-gara ngeyel jadinya beda sendiri, batinku menyalahkan diri sendiri.

Ketika mendekati pukul 09.00, petugas pun masuk ke ruangan dan mulai menyusun berkas-berkas. Kami diinstruksikan untuk mengumpulkan lembar surat tilang ke dalam kotak. Kemudian surat-surat tilang tersebut di pasangkan dengan berkas tilang yang mereka miliki. Aku bertanya pada petugas tersebut, “kalau lembar BIRU gimana, Mas? Haruskah aku pergi ke hutan atau lari ke pantai?” Pertanyaan yang minta toyor abis. Haha. Ternyata, lembar biru juga dikumpul di kotak yang sama. Oke, sampai sini aku masih sama dengan yang lain.

IMG_20150529_085120

Itu dia Mas-mas yang ngurusin berkas tilang, buanyak ya yang ditilang. Semua itu ditilang pada satu hari yang sama, dari segala penjuru kota palembang. Pukul sembilan lebih sedikit, peserta sidang alias terdakwa yang ditilang semakin memenuhi ruangan sidang. Awalnya tempat duduk banyak yang kosong, lama kelamaan tidak ada yang bisa duduk lagi.

IMG_20150529_083519

Acara sidang dimulai, Hakim memasuki ruang sidang. Kami, para terdakwa dipersilahkan untuk berdiri. Sebelum memulai, para petugas mengumumkan bahwa peraturan untuk peserta sidang harus memakai pakaian yang rapi. Yang memakai sendal jepit, celana pendek, tidak diperkenankan untuk mengikuti sidang. Peraturan tersebut ditegaskan kembali oleh pak Hakim, dan tidak sedikit peserta sidang yang balik kanan karena menyalahi aturan tersebut. Sidang dibuka untuk umum, ditandai dengan diketoknya palu oleh pak hakim.

IMG_20150529_092629

Oiya, ini bentuk surat tilangku yang pertama, membikin hatiku berlomba, seperti melodi yang indaaaaah. Plaak! Di sana dituliskan kalau aku melanggar pasal 288/37 UU 22 tahun 2009. Kalau aku cari di google, dakwaan terhadapku tidaklah tepat. Karena pasal tersebut untuk yang tidak membawa SIM/STNK saat razia berlangsung. Hmm. Jadi dakwaan kalau KIR mati melanggar pasal berapa? Any one can give me the answer? *nanya sama rumput yang bergoyang*

IMG_20150529_081154

Akhirnya tibalah waktunya yang dinanti-nantikan. Giliran pertama sekitar 20 orang dipanggil untuk duduk di bangku panjang, semuanya sama untuk kasus motor yang ditilang adalah SIM C. Satu persatu terdakwa dipanggil ke depan dan duduk di hadapan hakim.

Pertanyaan hakim hanya satu, “peraturan apa yang kamu langgar?”

“Tidak pakai helm, Pak”
“SIM/STNK mati, Pak”
“Melawan arus, Pak”
“Menerobos lampu merah, Pak”
“Mendaki gunung lewati lembah, Pak” *diketok jidatnya pake palu pak hakim*

Beragam jawaban dari para terdakwa, direspon sama pak hakim dengan, “tindakan kamu ini membahayakan diri sendiri atau membahayakan orang lain? Kalau membahayakan diri sendiri dendanya Rp 75.000, dan membahayakan orang lain dendanya Rp 100.000.

Aku mendapat urutan kedua dari giliran kedua. Bapak terdakwa sebelum aku, kesalahannya tidak memakai seat belt ketika mengendarai mobilnya, karena membahayakan diri sendiri didenda Rp 100.000. Ketika aku menjawab pelanggarannya KIR mati, sang Hakim sedikit berkerut menatapku. Entah apa yang membuatnya berekspresi seperti itu. Kemudian beliau bertanya sudah diperbarui atau belum, dan kujawab sudah. Aku diminta maju untuk menunjukkan bukti KIR yang sudah aku perbarui.

IMG_20150529_083917

Denda untuk kesalahanku adalah Rp 100.000 ditambah Rp 1.000 untuk biaya sidang. Walaupun tidak terlalu puas karena pasal dakwaan untukku tidak tepat (CMIIW), aku cukup senang dengan pengalamanku ditilang dan mengikuti sidang ini. Setidaknya tidak semenakutkan dan tidak sesulit yang aku bayangkan. Hukumannya pun kurasakan cukup adil, untuk keteledoranku yang lalai memperpanjang KIR. Sebenarnya aku ga ngerti tentang fungsi KIR ini, setiap kali perpanjangan KIR Halom tidak pernah diperiksa/diuji sedikit pun, hanya ganti sticker, plat besi kecil dan cap di bukunya saja. Kalau ditanyakan, alasannya mobilnya masih bagus ga usah diperiksa. Kalau mobilnya jelek, apa juga diperiksa? Sebenarnya pemeriksaan kendaraan berkala ada ga sih di sana? Hmm.

Oiya, di tempat sidang tadi juga ada calo yang seliweran. Saranku, ga usa pake yang gituan deh. Ikut aturan aja, ga ribet. Kalau mau urusannya selesai cepet, datangnya pagi, buktinya aku udah bisa pulang sebelum pukul sepuluh.

Oke, cerita selesai sampai di sini. Semoga bisa menjadi pelajaran untuk aku dan yang membutuhkan. Harapanku sebenarnya adalah para polisi, DLLAJ, dan instansi lainnya bisa menjadi teman yang baik, bukan yang menakuti tapi yang mengayomi. Tidak ada salahnya menjelaskan prosedur tindakan dan peraturan yang berlaku. Sungguh, banyak sekali masyarakat yang tidak melek hukum/aturan, jangan bodohi, tapi sadarkan, cerahkan dan pintarkan mereka. Semoga ini kali terakhir disidang. amiin.

Yang selalu terngiang, setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintakan pertanggungjawabannya. Pernah baca di tweetnya Ust Sallim Fillah, “Jika Allah memberimu kesempatan tuk lakukan apa yang kau mau dengan kekuasaaan, lakukan hal yang membuatNya ridha: Keadilan (Raja’ ibn Haiwah).”

My Vitamin Sea, Untung Jawa

Oke. Kita mulai cerita ya.

Salah satu tempat favoritku untuk melarikan diri adalah pantai. Pantai yang kupilih kali ini adalah Pantai yang ada di Pulau Untung Jawa. Sudah pernah dengar belum? Mungkin ada yang sudah dan ada yang belum pernah tahu tentang pantai dan pulau ini. Aku belum pernah ke pantai ini sebelumnya, tidak ada yang memandu hanya bermodal nekat dan Mbah Google aja.

Tiba di Soeta, aku naik damri ke gambir kemudian lanjut naik Trans Jakarta ke Salemba. Setelah selesai urusan di salemba, aku kembali naik Trans Jakarta menuju pemberhentian terakhirnya di terminal Kali Deres. Perjalanan masih jauh, naik angkot kemudian elf, dan terakhir naik angkot putih jurusan tanjung pasir.

PicsArt_1430912069283

Pelabuhan Tanjung Pasir, aku disambut oleh kapal-kapal yang bersandar di pantai. Ada satu kapal yang sedang menunggu penumpang untuk menyeberang ke pulau untung jawa. Aku beruntung datang pada saat kapal sudah hampir terisi penuh. Karena ketika aku bertanya ke penumpang di sampingku, mereka sudah menunggu hampir 2 jam. Aku juga beruntung bisa menyeberang PP hanya dengan Rp 30.000 saja sedangkan penumpang lain Rp 50.000. hehe. Terima kasih abang sopir kapal yang pemurah hati. Oya, aku ke sana pada hari sabtu. Konon kata penduduk setempat, kalau musim liburan atau hari minggu, tempat tersebut sangat ramai pengunjungnya.

PicsArt_1431045393453

Permainan air yang ditawarkan di Pulau ini cukup beragam, ada banana boat, jetski, dan semua yang tidak aku tahu namanya. Mau snorkeling pun bisa. Pelampung, sepatu, google, dan snorklenya juga tersedia di sini. Sebenarnya aku ingin sekali berenang dan snorkling di sana, tapi karena sedang ada halangan, aku hanya bisa menikmati pantai ini dengan menyeburkan kakiku bermain ombak dan mengelilingi pulau kecilnya.

PicsArt_1430911284503

PicsArt_1430911361047

PicsArt_1430911455114

PicsArt_1431045468501

PicsArt_1430911536113

PicsArt_1430911604095

PicsArt_1431045603358

—–
PicsArt_1431607082172[1]

PicsArt_1430911816609

PicsArt_1430911720841

PicsArt_1431606974541[1]

PicsArt_1430923906935 - Copy

PicsArt_1430923997918

PicsArt_1430923826538

PicsArt_1431045746147

PicsArt_1431608362381[1]

Menurutku pulau dan pantainya cukup indah, bisa dilihat dari jepretanku yang ala kadarnya. Sarana dan prasarana di sini pun sudah cukup memadai. Ada masjid, puskesmas, tempat olah raga tempat makan, kamar mandi dan wc umum. Namun, pada beberapa tempat banyak sampah yang mengotori pulau indah ini. Pada akar pohon mangrove banyak tersangkut sampah plastik, pemandangan yang menyedihkan.

PicsArt_1431606917210[1]

PicsArt_1430924079747

PicsArt_1430924130558

PicsArt_1431608485334[1]

PicsArt_1430924215160

PicsArt_1431045694923

Puas berkeliling dan main ombak akupun kembali ke dermaga tempat kedatanganku tadi. Oya, di pulau ini juga terdapat penginapan. Beberapa rumah warga setempat disewakan untuk para wisatawan yang ingin menginap di sana. Berhubung saat itu aku hanya one day trip, aku tidak bisa berlama-lama di sana. Sebelum aku turun di Tanjung pasir, pak sopir bilang kalau sudah sore, angkot putihnya tidak beroperasi lagi. Tidak lama setelah kapal terisi, kami pun kembali menyeberang ke Pelabuhan Tanjung Pasir.

PicsArt_1430911915878

Sepanjang perjalanan pulang, kami diantar rombongan burung yang berkelompok beriring terbang di langit yang biru. Aku mencoba menangkap mereka dengan kamera hpku, namun selalu saja terlambat. Burung-burung tersebut berasal dari Pulau Rambut yang berada di sebelah pulau untung jawa. Kalau mau melihat mereka lebih dekat, kita harus menyeberang lagi dengan kapal. Untuk saat ini aku cukup melihat mereka dari atas kapal pulang ku saja.

PicsArt_1431607153306[1]

PicsArt_1431044920387

PicsArt_1430912189478

PicsArt_1430912009355

Turun dari kapal, ketemu kucing ini kirain tewas, ditowel-towel ternyata cuma tidur di tengah jalan. ckckck.

PicsArt_1431046032957

Perjalanan pulang dari Tanjung Pasir, naik Elf, banyak sawah dan siring irigasi. Sedihnya, air siring itu dipakai untuk mandi, cuci, kakus warga sekitar siring tersebut.

PicsArt_1431607262252[1]

PicsArt_1431607306248[1]

Sekian dulu catatan jalan-jalanku. Semoga nanti bisa kembali ke sini dengan keadaan yang makin baik.

NB: aku banyak terbantu dari sini. Kalo ada yang mau tau jalannya ke Untung Jawa, silahkan dioprek2.