Sebuah Surat untuk Dokter dan Mahasiswa Kedokteran

Rekan sejawat yang terhormat,

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk bisa kaya raya, maka segeralah kemasi barang-barang Anda.
Mungkin fakultas ekonomi lebih tepat untuk mendidik anda menjadi businessman bergelimang rupiah
Daripada Anda harus mengorbankan pasien dan keluarga Anda sendiri demi mengejar kekayaan.

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk mendapatkan kedudukan sosial tinggi di masyarakat, dipuja dan didewakan, maka silahkan kembali ke Mesir ribuan tahun yang lalu dan jadilah fir’aun di sana. Daripada Anda di sini harus menjadi arogan dan merendahkan orang lain di sekitar Anda hanya agar Anda terkesan paling berharga.

Jika Anda ingin menjadi dokter untuk memudahkan mencari jodoh atau menarik perhatian calon mertua, mungkin lebih baik Anda mencari agency selebritis yang akan mengorbitkan Anda sehingga menjadi artis pujaan para wanita. Daripada Anda bersembunyi di balik topeng klimis dan jas putih necis, sementara Anda alpa dari makna dokter yang sesungguhnya.

Dokter tidak diciptakan untuk itu, kawan.

Memilih menjadi dokter bukan sekadar agar bisa bergaya dengan BMW keluaran terbaru, bukan sekadar bisa terihat tampan dengan jas putih kebanggaan, bukan sekadar agar para tetangga terbungkuk-bungkuk hormat melihat kita lewat.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengabdian. Mengabdi pada masyarakat yang masih akrab dengan busung lapar dan gizi buruk. Mengabdi pada masyarakat yang masih sering mengunjungi dukun ketika anaknya demam tinggi.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan empati, ketika dengan lembut kita merangkul dan menguatkan seorang bapak tua yang baru saja kehilangan anaknya karena malaria.

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kemanusiaan, ketika kita tergerak mengabdikan diri dalam tim medis penanggulangan bencana dengan bayaran cuma-cuma.

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kepedulian, saat kita terpaku dalam sujud-sujud panjang, mendoakan kesembuhan dan kebahagiaan pasien-pasien kita.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan berbagi, ketika seorang tukang becak menangis di depan kita karena tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit anaknya yang terkena demam berdarah. Lalu dengan senyum terindah yang pernah disaksikan dunia, kita menepuk bahunya dan berkata, “jangan menangis lagi, pak, Insya Allah saya bantu pembayarannya.”

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan kasih sayang, ketika dengan sepenuh cinta kita mengusap lembut rambut seorang anak dengan leukemia dan berbisik lembut di telinganya,”dik, mau diceritain dongeng nggak sama oom dokter?”

Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan ketegasan, ketika sebuah perusahaan farmasi menjanjikan komisi besar untuk target penjualan obat-obatnya, lalu dengan tetap tersenyum kita mantap berkata, “maaf, saya tidak mungkin mengkhianati pasien dan hati nurani saya”

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengorbanan, saat tengah malam tetangga dari kampung sebelah dengan panik mengetuk pintu rumah kita karena anaknya demam dan kejang-kejang. Lalu dengan ikhlas kita beranjak meninggalkan hangatnya peraduan menembus pekat dan dinginnya malam.

Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan terjal lagi mendaki untuk meraih cita-cita kita. Bukan, bukan kekayaan atau penghormatan manusia yang kita cari. Tapi ridha Allah lah yang senantiasa kita perjuangkan.

Yah, memilih menjadi dokter adalah memilih jalan menuju surga, tempat di mana dokter sudah tidak lagi perlu ada…

NB :
Ini bukan provokasi untuk menjadi dokter miskin, bukan juga mengatakan bahwa dokter tidak perlu penghormatan atau hal-hal duniawi lainnya. Tulisan ini hanya sekadar sebuah nasihat untuk diri sendiri dan rekan sejawat semua untuk meluruskan kembali niat kita dalam menjadi seorang dokter. Karena setiap amalan tergantung pada niatnya. Silakan menjadi kaya, silakan menjadi terhormat, asal jangan itu yang menjadi tujuan kita. Dokter terlalu rendah jika diniatkan hanya untuk keuntungan duniawi semata. Mungkin akan sangat susah untuk menggenggam erat idealisme ini nantinya. Namun saya yakin, jika ada kemauan yang kuat dan niat yang tepat, idealisme ini akan terbawa sampai mati. Walaupun harus sendirian dalam memperjuangkannya, walaupun banyak yang mencemooh dan merendahkan. Saya yakin, Allah tidak akan pernah salah menilai setiap usaha dan perjuangan hamba-hamba-Nya. Tidak akan pernah.

Aditya Putra Priyahita,
seorang yang sangat merindukan sebuah reuni anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di surga nanti

 

*lg iseng blog walking, nemu tulisan ini. bagus dan jleb banget. tidak haus pujian, kekayaan, ataupun mau gaya-gayaan. semoga dokter2 dengan idealisme di atas tidak tergerus masa. aamiin.*

Iklan

Bukan Kutukan, tetapi Akibat Ulah Perbuatan

Malam itu awan hitam menggelayut di desa kami. Betapa tidak, tiba-tiba warga baik muda maupun tua mengalami muntah dan mencret. Awalnya hanya satu-dua orang saja, lama kelamaan jumlahnya semakin bertambah. Tiga orang anak yang banyak kehilangan cairan karena muntah dan mencret, tidak tertolong. Beberapa yang masih bisa bertahan dibawa ke Puskesmas setempat untuk mendapatkan pertolongan segera. Pagi itu juga Dinas Kesehatan turun ke desa kami, memberikan pertolongan di posko gawat darurat untuk warga yang mengalami muntah dan mencret. Warga yang datang diberikan cairan tambahan untuk mengatasi dehidrasi akibat muntah dan mencret yang mereka alami. Ada yang mendapatkan Oralit bila dehirasinya ringan, dan ada juga yang mendapatkan cairan tambahan dari infus karena datang sudah dalam keadaan syok. Semua warga dari empat kampung berkumpul dalam satu posko. Datang tanpa henti. Kalau dijumlahkan mungkin bisa mencapai hingga 200 orang warga kami yang terkena penyakit tersebut, dan angka paling tinggi terdapat pada saat dua hari pertama.

1

DSC03859

Apa penyebabnya? Tidak pernah terjadi sebelumnya penyakit seperti ini di desa kami. “Ini pasti kutukan”, cetus seorang warga yang diaminkan oleh beberapa warga lainnya, Tak mau kalah, seorang nenek pun bercerita tentang mimpinya. “Aku bermimpi, desa kita dikunjungi oleh kapal yang berisi banyak mahluk hitam”, seru nenek tersebut. Konon kabarnya, arti mimpi itu adalah akan terjadi musibah berkepanjangan di desa kami. Warga mulai panik. Keesokan malamnya, para sesepuh desa kami memanggil dukun untuk mengadakan ritual tolak bala atau “Nepung Desa”. Seumur hidup baru kali itu aku melihat ritual tersebut. Bapak-bapak berpakaian hitam, berbadan kekar dan berkumis lebat, berkumpul di rumah Kepala Desa. Mereka membuat ramuan dari kapur sirih dan perasan jeruk nipis dalam jumlah yang cukup banyak untuk ditebar ke seluruh penjuru desa. Aku bergidik melihat itu semua, “apapun penyebabnya, semoga musibah ini cepat berakhir,” batinku.

Desaku adalah desa kecil yang terdiri dari empat kampung, terletak di pinggir anak sungai musi. Untuk mencapai pusat kabupaten membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua jam. Alat transportasi kami berupa perahu ketek, perahu jukung, perahu tongkang dan speed boat yang tidak murah ongkosnya untuk satu kali menyeberang. Saat itu desaku memang sedang dilanda kekeringan akibat musim kemarau. Di sini kami belum mendapatkan air bersih/PDAM. Dapat dibayangkan betapa sulitnya kami dalam mendapatkan air bersih dan sehat untuk kebutuhan sehari-hari.

Sekitar satu minggu setelah kejadian wabah muntah mencret kutukan tersebut berakhir, aku dan seluruh warga desa dikumpulkan di lapangan desa. Ternyata hari itu ada penyuluhan serta pengobatan gratis dari puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten. Di sana kami diberi tahu penyebab penyakit yang dialami oleh warga di desa kami ini bukanlah disebabkan dari kutukan ataupun yang berbau mistis lainnya.

Beberapa sample kotoran, muntahan dan serta air di desa kami diambil dan dianalisis di laboratorium guna mencari penyebab wabah kutukan tersebut. Ternyata penyebabnya adalah kuman E.coli. Menurut Ibu dokter yang memberi penyuluhan, kuman E.coli adalah flora normal dalam usus manusia dan ditemukan di kotoran manusia. Apabila ada sumber air yang tercemar kotoran manusia, maka kuman E.coli maupun kuman lainnya akan menginfeksi orang-orang yang mengkonsumsi air tersebut.

Ternyata air sungai yang kami gunakan selama ini tercemar oleh kuman E. coli. Hampir semua aktifitas mandi, cuci, kakus bahkan untuk memasak kami mengandalkan sungai yang hanya beberapa langkah dari rumah kami. Setiap pagi dan sore hari, warga buang air besar di “bong” atau jamban terapung, kemudian ibu-ibu mencuci piring dan pakaian di dekat “bong” tersebut, lalu anak-anak mandi dan sikat gigi di sana. Belum lagi kebiasaan seperti membuang sampah ke sungai, padahal air tersebut kami gunakan untuk memasak makanan dan minuman kami sehari-hari. Dan akhirnya kami menuai hasil dari perbuatan kami sendiri.

2

3

Penyakit itu bukanlah kutukan, tetapi teguran untuk kami agar lebih berhati-hati dalam menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan sumber mata air yang ada di sekitar kami.

Pada saat penyuluhan kami juga diberi tahu untuk tidak buang air besar/kecil di “bong”/sungai, melainkan di WC. WC sederhana sudah cukup, yang terpenting adalah agar kotoran kami tidak mencemari sumber mata air di desa.

Perilaku sehat juga dijelaskan pada penyuluhan tersebut, seperti memasak air minum hingga mendidih, mencuci bahan makanan yang akan dimasak dengan air bersih, tidak mengonsumsi makanan mentah/setengah matang, menggalakkan kebiasaan mencuci tangan pakai sabun sebelum makan/minum dan setelah buang air besar/kecil, tidak membuang sampah ke sungai, membuat sumur dengan cincin (diberi batu bata di sekeliling sumur), dll.

4

Selain itu, kami juga diajarkan untuk membersihkan air yang akan kami konsumsi, dengan cara memberikan kaporit/tawas dan melakukan penyaringan dengan batu, ijuk, pasir, dan busa. Ketika metode-penyaringan-yang-agak-ribet ini dijelaskan, terpikir olehku alat yang kerap kali diiklankan di televisi. Pure it, alangkah mudahnya dan alangkah bahagianya bila kami bisa memiliki alat water purifier tersebut di desa ini. Tanpa listrik, tanpa gas, dan tidak perlu dimasak terlebih dahulu, air akan menjadi bersih dan sehat untuk dikonsumsi.

Semoga peristiwa ini bisa menjadi pelajaran yang baik untuk warga desa kami dan juga kita semua. Betapa pentingnya menjaga kesehatan, kebersihan diri dan kebersihan lingkungan (sumber mata air). Tidak bisa kita pilih salah satu saja, semua hal tersebut saling berkait. Lingkungan dan pribadi yang bersih dan sehat, akan menciptakan pribadi dan lingkungan yang bersih dan sehat pula. 🙂

Tanaman Obat Keluarga

Dalam rangka mengikuti lomba Kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA) antar Puskesmas se-kabupaten, setiap pegawai di tempat kerjaku diwajibkan membawa masing-masing satu atau lebih tanaman-tanaman yang bermanfaat bagi keluarga. Kerja bakti pun dimulai, ada yang membawa cangkul, parang, sabit, pupuk, dan alat-alat bercocok tanam lainnya.

Banyuasin III-20121127-00621

Berikut nama-nama tanaman obat yang ditanam:
– Kunyit
– Jahe
– Lengkuas
– Temulawak
– Kunyit
– Lada
– Jintan
– Daun salam
– Jambu klutuk
– Pepaya
– Mangga
– Sirsak
– Mengkudu
– Lidah buaya
– Lidah mertua
– Kacapiring
– Mawar
– Melati
– Kenanga
– Roseolla
– Pacar cina
– Pinang
– Kembang sepatu
– Putri malu
– Kumis kucing
– Sirih
– Pandan
– Suji
– Petai cina
– Patikan kebo
– Seletupan
– Seledri
– Katuk
– Bayam
– Kangkung
– Timun
– Cabai
– Jeruk nipis
– Jeruk limau
– daun kucai
– Kelor
– mahkota dewa
– tapak dara
– Jarak
– Brotowali
– Keji beling
– Sambiloto
– Jeringo
– Bangle
– Alang-alang

Tanaman obat keluarga ini bisa menjadi pilihan saat kita mengalami sakit di rumah, contoh daun jambu biji untuk diare, temulawak untuk sakit kuning, seletupan untuk darah tinggi, alang-alang untuk panas dalam, dan lain lain. Meskipun TOGA ini termasuk ke dalam golongan pengobatan alami/herbal, penggunaannya tidak boleh berlebihan. Selain itu masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dalam hal khasiat dan dosisnya.

Selain bermanfaat bagi kesehatan, TOGA juga bisa bermanfaat sebagai hiasan, makanan, bumbu masak dan menambah penghasilan bagi keluarga yang menanamnya.

DSC04300

Bukan Batuk Biasa.. (BBB)

Pernah dengar istilah BBB di atas? Pastinya bukan group penyanyi tarakdungces. Jadi BBB alias Bukan Batuk Biasa itu apa? Buat yang belum tahu, ni aku share sedikit ya…

Yang dimaksud dengan Bukan Batuk Biasa adalah batuk yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis atau TB. Kenapa TB penting untuk dibahas, karena angka kejadian TB di negara kita tercinta cukup tinggi. Indonesia mendapat peringkat ke IV pada tahun 2011 ini. sebanyak 450.000 kasus TB baru pertahun dengan angka kematian akibat TB sebanyak 64.000 kematian/tahun. Artinya, sekitar tujuh orang meninggal akibat TB setiap jamnya di Indonesia. Angka yang fantastis. Ckckck.

Batuk TB ini termasuk penyakit berbahaya karena penularannya langsung dan sangat mudah. Artinya, menular langsung dari si penderita, tanpa perantara. Tidak seperti demam berdarah dan kaki gajah yang butuh nyamuk, TB bisa menular langsung dari penderita ke kita yang berada di sekitarnya lewat udara. Terdengar mengerikan ya. Namun jangan takut dulu, TB bisa diobati dan bisa dicegah penularannya koq.

Gejala dari TB sendiri sangat bermacam-macam, yang paling utama adalah adanya batuk berdahak lebih dari 2 minggu. Batuk tersebut biasanya disertai dengan keluhan pada saluran nafas seperti nyeri dada, sesak nafas, batuk darah. Terkadang juga terdapat gejala seperti demam yang disertai keringat dingin pada malam hari, tidak nafsu makan, penurunan berat badan, dan gejala-gejala lainnya.

Setelah membaca ciri-ciri di atas, ada yang meraasa seperti itu? Bisa jadi kita batuk 2 minggu, tidak nafsu makan, demam, apakah itu TB? Tubuh manusia itu unik sekali, tidak bisa kita tetapkan 1+1=2. Kalau dari bacaan diatas, mirip sekali dengan gejala TB ya, namun bisa jadi itu TB , bisa juga itu bukan TB. Untuk menegakkan diagnosis TB tidak cukup hanya berdasarkan gejala saja, harus kita periksa lebih lanjut.

Bila ada yang mengalami batuk dengan gejala-gejala di atas, langkah yang selanjutnya dilakukan adalah memeriksakan dahaknya ke laboratorium. Tidak perlu ke fasilitas pelayanan kesehatan yang canggih. Di puskesmas pun pemeriksaan dahak untuk TB bisa dilakukan.

Pemeriksaan dahak dilakukan sebanyak 3 kali yaitu pada dahak sewaktu, pagi hari dan sewaktu. Dahak sewaktu biasanya diambil pada saat kunjungan pertama dan kunjungan kedua ke fasilitas pelayanan kesehatan. Dahak pagi hari diambil saat bangun tidur, kemudian dibawa ke fasyankes pada kunjungan kedua.

image

Bila ternyata dua dari tiga hasil dahaknya positif ditemukan kuman TB maka bisa dipastikan orang tersebut menderita TB. Pemeriksaan mikroskopis dahak untuk menegakkan diagnosis TB merupakan gold standard karena sensitifitas dan spesifisitasnya tinggi. Pemeriksaan lain yang juga dilakukan untuk menegakkan diagnosis TB ini bisa dengan rontgen dada atau juga biakan/kultur dahak. Bila dibandingkan dengan pemeriksaan dahak, kedua pemeriksaan ini tentu saja tidak cost effective.

image

Apabila ternyata dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya TB, anda bisa berlega hati. Namun, bila ternyata anda didiagnosis menderita TB, tidak perlu takut, TB bisa diobati.

Pengobatan TB memang tidak mudah, membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Penderita diwajibkan meminum obatnya setiap hari, dalam jumlah yang banyak, bisa sampai 10 tablet sehari selama 6 bulan hingga 1 tahun. Tidak sedikit penderita yang menyerah dalam berobat. Kepatuhan dalam menelan obat, biaya berobat, kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar merupakan kendala yang kerap muncul. Solusinya? Saaat ini obat TB diberikan secara cuma-cuma alias GRATIS di setiap Puskesmas di Indonesia. Pengawasan dalam menelan obat pun menjadi sorotan. Penyuluhan dan pendidikan mengenai TB juga mulai digalakkan di setiap pelosok negara kita. Semua itu dilakukan guna mewujudkan cita-cita Indonesia Bebas TB tahun 2050.
image

TB bukanlah penyakit kutukan, tidak perlu dikucilkan atau ditakuti. Dengan mengetahui cara penularannya, kita bisa mencegah terkena penyakit tersebut. Pencegahan paling utama pada TB adalah mengobati penderita TB hingga sembuh agar tidak bertambah lagi kasus-kasus TB baru.

Selain mengobati penderita TB hingga sembuh, pencegahan lainnya yang dapat dilakukan adalah dengan:
– menerapkan perilaku batuk/bersin yang benar. Biasakan untuk menutup hidung dan mulut dengan menggunakan sapu tangan atau tissue setiap kali batuk/bersin.
– Tidak membuang dahak/ludah di sembarang tempat.
– Membuat hunian yang tidak padat penghuni, bersih, pencahayaan dan ventilasi yang baik.
– Mengkonsumsi makanan yang bergizi.
– Menggalakkan imunisasi BCG pada bayi.
– Riwayat kontak penderita TB

Buryam..Buryam..Siapa yang mau?

Buryam atau bubur ayam adalah salah satu menu sarapan favoritku. Biasanya aku tidak pernah membuat sendiri, selalu beli. Hehe. Namun, pagi ini aku ingin menjajal kemampuanku (halah) dalam hal masak-memasak. Tak ku gubris panggilan Abang buryam yang sibuk membunyikan mangkuk bubur pertanda ia lewat di depan rumahku. Abang khafilah buryam menggonggong, aku pun terus berlalu memasak (peribahasa maksa pagi ini).

Setelah aku bersemedi, aku pun mendapat wangsit dari mbah Google. Resep Bubur Ayam Kuah Kuning Jawa Barat. Here’s  the link http://dapurpunyaku.blogspot.com/2011/09/resep-bubur-ayam-kuah-kuning-jawa-barat.html

Step-step dalam resepnya lumayan mudah, tidak terlalu sulit untukku yang sudah PROFESIONAL dalam hal masak-memasak, #lhaa. Hanya saja memang memasaknya tidak bisa instan. Membuat bubur, membuat kaldu, membuat kuah, dan menyiapkan toppingnya memakan waktu hampir 1,5 jam. Lain hal bila kita membuat bubur instan, yang tinggal diseduh dengan air panas, hanya butuh waktu kurang dari 5 menit saja. Kalau tidak buru-buru akan memburu ubur, menu bubur ayam ini bisa jadi pilihan untuk sarapan Spongebob, Patrick dan Squidward selain menu Crabby Patty. *efek bikin bubur sambil nonton Spongebob*

Men sarapan in corpore kuat, di dalam sarapan yang sehat, terdapat tubuh yang kuat (peribahasa maksa lagi). Hehe. Selamat mencoba dan selamat menikmati. Selamat makan, selamat sarapan, selamat pagii..:)

 

Image

Berburu ubur-ubur, eh lumba-lumba di Teluk Kiluan

Gerbang inilah yang kami nanti-nantikan setelah (mencoba) menikmati kurang lebih 11 jam perjalanan dari Palembang ke Teluk Kiluan Lampung. Akhirnyaaa….

CIMG0621

Teluk Kiluan berada desa Kiluan Negeri Kecamatan Kelumbayan Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. Kalau di lihat di peta, letaknya berada di paling bawah dari pulau Sumatera. Jarak tempuh dari Bandar Lampung sekitar 3 jam perjalanan bila menggunakan mobil. Medan yang ditempuh cukup sulit (apalagi saat itu sedang musim hujan alias November rain), jalanan banyak lubang, becek, naik dan turun bukit, dan terdapat jurang di pinggir jalan. Namun semua perjuangan tersebut terbayar lunas ketika tiba di tepian Teluk Kiluan…

DSC04030

Sebenarnya tempat ini adalah sejenis dermaga tempat kami akan menyeberang ke lokasi kami akan menginap. Perahu di atas adalah perahu jukung. Perahu sederhana, bentuknya langsing ditopang dengan 2 kaki di kanan dan kiri, serta bertenaga mesin kecil.
Hebatnya, perahu kecil ini mampu membawa kami delapan orang sekaligus. Hehe.

CIMG0630

Setelah sekitar 10 menit kami menyeberang dengan menggunakan jukung, kami pun tiba di pondokan tempat kami menginap, Pondok Anak Abah namanya. Begitu tenang. Tidak ada listrik (malam hari menggunakan genset) maupun sinyal telepon. Begitu bebas dari hiruk-pikuk dunia.

CIMG0769

Hijau, biru, putih dan segala warna indah lainnya menyambut kami di sini. Cukup satu kata, menenangkan.

CIMG0967

CIMG0966

CIMG0930

DSC04102

DSC04096

CIMG0695

Meskipun liburan, bukan berarti makannya juga libur ya. Di sini, bukan hanya mata yang dipuaskan, namun urusan perut pun tidak kalah juaranya. Dari pondok anak abah, ada ibu-ibu yang siap menyediakan makanan yang enak-enak. Tentu saja menu laut yang jadi andalan mereka. Malam hari pun kami disuguhi ikan lemadang BBQ yang Top Markotop bin Maknyus (Pak Bondan, pinjem istilahnya ya). Biasanya lobster jadi menu di sini, namun kami belum beruntung saat itu. hiks.

DSC04045

DSC04041

DSC04157

CIMG0742

Perburuan lumba-lumba dimulai keesokan harinya. Sekitar pukul 6.30 wib kami siap menuju laut lepas. Satu jukung hanya boleh ditumpangi 3 sampai 4 orang saja, dan wajib memakai life vest. Perjalanan sekitar 30 menit menantang matahari yang sedang terbit dari garis lurus laut. Lebih dari 20 jukung berangkat pagi itu, tujuannya satu, melihat sang lumba-lumba menari bebas di alamnya. Dan kami sangat beruntung pagi itu, rombongan lumba-lumba menyambut kami dengan meriahnya. Mereka melompat, berputar, berenang di sekitar kami. Subhanallah, indahnya. Ingin rasanya ikut berenang bersama mereka. Aku sempat bertanya dengan sopir jukung, “Boleh ga berenang di sini?”. Sang sopir jukung menjawab kalem, “boleh aja mbak, tapi di sini bisa jadi ada hiunya.” Aku pun mengurungkan niatku. Hehe. Ini foto-foto si lumba-lumba yang sempat tertangkap kameraku.

CIMG0820

CIMG0887

CIMG0885

CIMG0874

CIMG0872

CIMG0839

CIMG0916

Setelah puas bercengkrama dengan lumba-lumba, kami pun menyapa karang, koral, ikan, dan penghuni pantai dengan ber-snorkeling ria. Saranku jangan menjerit kegirangan di dalam air ketika melihat Patrick Starfish, si Finding Nemo, ataupun lion fish di sini, karena bisa membuat kita tertelan air laut yang asiiiiiinn (pengalaman pribadi). 😀

CIMG0955

Finally, berburu lumba-lumba dan semua kesenangan di Teluk Kiluan harus di akhiri. Liburan harpitnas udah abis, mari pulang ke habitat masing-masing. Next time, I’ll be back there, Insya Allah. Ohiya, last word, terima kasih @kiluandolphin. 🙂

Cinta dalam Diam (Ali-Fatimah)

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

 

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

 

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

 

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

 

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

 

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

 

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

 

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

 

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

 

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

 

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

 

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

 

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

 

’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

 

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.

Ia mengambil kesempatan.

Itulah keberanian.

Atau mempersilakan.

Yang ini pengorbanan.

 

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

 

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

 

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

 

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

 

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

 

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

 

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

 

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

 

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

 

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

 

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

 

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

 

”Entahlah..”

 

”Apa maksudmu?”

 

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

 

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,

 

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

 

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

 

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. 

 

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

 

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

 

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

 

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

 

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

 

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

 

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)

 

 

 

sumber: Renungan Kisah Inspiratif