Bukan Kutukan, tetapi Akibat Ulah Perbuatan

Malam itu awan hitam menggelayut di desa kami. Betapa tidak, tiba-tiba warga baik muda maupun tua mengalami muntah dan mencret. Awalnya hanya satu-dua orang saja, lama kelamaan jumlahnya semakin bertambah. Tiga orang anak yang banyak kehilangan cairan karena muntah dan mencret, tidak tertolong. Beberapa yang masih bisa bertahan dibawa ke Puskesmas setempat untuk mendapatkan pertolongan segera. Pagi itu juga Dinas Kesehatan turun ke desa kami, memberikan pertolongan di posko gawat darurat untuk warga yang mengalami muntah dan mencret. Warga yang datang diberikan cairan tambahan untuk mengatasi dehidrasi akibat muntah dan mencret yang mereka alami. Ada yang mendapatkan Oralit bila dehirasinya ringan, dan ada juga yang mendapatkan cairan tambahan dari infus karena datang sudah dalam keadaan syok. Semua warga dari empat kampung berkumpul dalam satu posko. Datang tanpa henti. Kalau dijumlahkan mungkin bisa mencapai hingga 200 orang warga kami yang terkena penyakit tersebut, dan angka paling tinggi terdapat pada saat dua hari pertama.

1

DSC03859

Apa penyebabnya? Tidak pernah terjadi sebelumnya penyakit seperti ini di desa kami. “Ini pasti kutukan”, cetus seorang warga yang diaminkan oleh beberapa warga lainnya, Tak mau kalah, seorang nenek pun bercerita tentang mimpinya. “Aku bermimpi, desa kita dikunjungi oleh kapal yang berisi banyak mahluk hitam”, seru nenek tersebut. Konon kabarnya, arti mimpi itu adalah akan terjadi musibah berkepanjangan di desa kami. Warga mulai panik. Keesokan malamnya, para sesepuh desa kami memanggil dukun untuk mengadakan ritual tolak bala atau “Nepung Desa”. Seumur hidup baru kali itu aku melihat ritual tersebut. Bapak-bapak berpakaian hitam, berbadan kekar dan berkumis lebat, berkumpul di rumah Kepala Desa. Mereka membuat ramuan dari kapur sirih dan perasan jeruk nipis dalam jumlah yang cukup banyak untuk ditebar ke seluruh penjuru desa. Aku bergidik melihat itu semua, “apapun penyebabnya, semoga musibah ini cepat berakhir,” batinku.

Desaku adalah desa kecil yang terdiri dari empat kampung, terletak di pinggir anak sungai musi. Untuk mencapai pusat kabupaten membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua jam. Alat transportasi kami berupa perahu ketek, perahu jukung, perahu tongkang dan speed boat yang tidak murah ongkosnya untuk satu kali menyeberang. Saat itu desaku memang sedang dilanda kekeringan akibat musim kemarau. Di sini kami belum mendapatkan air bersih/PDAM. Dapat dibayangkan betapa sulitnya kami dalam mendapatkan air bersih dan sehat untuk kebutuhan sehari-hari.

Sekitar satu minggu setelah kejadian wabah muntah mencret kutukan tersebut berakhir, aku dan seluruh warga desa dikumpulkan di lapangan desa. Ternyata hari itu ada penyuluhan serta pengobatan gratis dari puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten. Di sana kami diberi tahu penyebab penyakit yang dialami oleh warga di desa kami ini bukanlah disebabkan dari kutukan ataupun yang berbau mistis lainnya.

Beberapa sample kotoran, muntahan dan serta air di desa kami diambil dan dianalisis di laboratorium guna mencari penyebab wabah kutukan tersebut. Ternyata penyebabnya adalah kuman E.coli. Menurut Ibu dokter yang memberi penyuluhan, kuman E.coli adalah flora normal dalam usus manusia dan ditemukan di kotoran manusia. Apabila ada sumber air yang tercemar kotoran manusia, maka kuman E.coli maupun kuman lainnya akan menginfeksi orang-orang yang mengkonsumsi air tersebut.

Ternyata air sungai yang kami gunakan selama ini tercemar oleh kuman E. coli. Hampir semua aktifitas mandi, cuci, kakus bahkan untuk memasak kami mengandalkan sungai yang hanya beberapa langkah dari rumah kami. Setiap pagi dan sore hari, warga buang air besar di “bong” atau jamban terapung, kemudian ibu-ibu mencuci piring dan pakaian di dekat “bong” tersebut, lalu anak-anak mandi dan sikat gigi di sana. Belum lagi kebiasaan seperti membuang sampah ke sungai, padahal air tersebut kami gunakan untuk memasak makanan dan minuman kami sehari-hari. Dan akhirnya kami menuai hasil dari perbuatan kami sendiri.

2

3

Penyakit itu bukanlah kutukan, tetapi teguran untuk kami agar lebih berhati-hati dalam menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan sumber mata air yang ada di sekitar kami.

Pada saat penyuluhan kami juga diberi tahu untuk tidak buang air besar/kecil di “bong”/sungai, melainkan di WC. WC sederhana sudah cukup, yang terpenting adalah agar kotoran kami tidak mencemari sumber mata air di desa.

Perilaku sehat juga dijelaskan pada penyuluhan tersebut, seperti memasak air minum hingga mendidih, mencuci bahan makanan yang akan dimasak dengan air bersih, tidak mengonsumsi makanan mentah/setengah matang, menggalakkan kebiasaan mencuci tangan pakai sabun sebelum makan/minum dan setelah buang air besar/kecil, tidak membuang sampah ke sungai, membuat sumur dengan cincin (diberi batu bata di sekeliling sumur), dll.

4

Selain itu, kami juga diajarkan untuk membersihkan air yang akan kami konsumsi, dengan cara memberikan kaporit/tawas dan melakukan penyaringan dengan batu, ijuk, pasir, dan busa. Ketika metode-penyaringan-yang-agak-ribet ini dijelaskan, terpikir olehku alat yang kerap kali diiklankan di televisi. Pure it, alangkah mudahnya dan alangkah bahagianya bila kami bisa memiliki alat water purifier tersebut di desa ini. Tanpa listrik, tanpa gas, dan tidak perlu dimasak terlebih dahulu, air akan menjadi bersih dan sehat untuk dikonsumsi.

Semoga peristiwa ini bisa menjadi pelajaran yang baik untuk warga desa kami dan juga kita semua. Betapa pentingnya menjaga kesehatan, kebersihan diri dan kebersihan lingkungan (sumber mata air). Tidak bisa kita pilih salah satu saja, semua hal tersebut saling berkait. Lingkungan dan pribadi yang bersih dan sehat, akan menciptakan pribadi dan lingkungan yang bersih dan sehat pula. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s