My Vitamin Sea, Untung Jawa

Oke. Kita mulai cerita ya.

Salah satu tempat favoritku untuk melarikan diri adalah pantai. Pantai yang kupilih kali ini adalah Pantai yang ada di Pulau Untung Jawa. Sudah pernah dengar belum? Mungkin ada yang sudah dan ada yang belum pernah tahu tentang pantai dan pulau ini. Aku belum pernah ke pantai ini sebelumnya, tidak ada yang memandu hanya bermodal nekat dan Mbah Google aja.

Tiba di Soeta, aku naik damri ke gambir kemudian lanjut naik Trans Jakarta ke Salemba. Setelah selesai urusan di salemba, aku kembali naik Trans Jakarta menuju pemberhentian terakhirnya di terminal Kali Deres. Perjalanan masih jauh, naik angkot kemudian elf, dan terakhir naik angkot putih jurusan tanjung pasir.

PicsArt_1430912069283

Pelabuhan Tanjung Pasir, aku disambut oleh kapal-kapal yang bersandar di pantai. Ada satu kapal yang sedang menunggu penumpang untuk menyeberang ke pulau untung jawa. Aku beruntung datang pada saat kapal sudah hampir terisi penuh. Karena ketika aku bertanya ke penumpang di sampingku, mereka sudah menunggu hampir 2 jam. Aku juga beruntung bisa menyeberang PP hanya dengan Rp 30.000 saja sedangkan penumpang lain Rp 50.000. hehe. Terima kasih abang sopir kapal yang pemurah hati. Oya, aku ke sana pada hari sabtu. Konon kata penduduk setempat, kalau musim liburan atau hari minggu, tempat tersebut sangat ramai pengunjungnya.

PicsArt_1431045393453

Permainan air yang ditawarkan di Pulau ini cukup beragam, ada banana boat, jetski, dan semua yang tidak aku tahu namanya. Mau snorkeling pun bisa. Pelampung, sepatu, google, dan snorklenya juga tersedia di sini. Sebenarnya aku ingin sekali berenang dan snorkling di sana, tapi karena sedang ada halangan, aku hanya bisa menikmati pantai ini dengan menyeburkan kakiku bermain ombak dan mengelilingi pulau kecilnya.

PicsArt_1430911284503

PicsArt_1430911361047

PicsArt_1430911455114

PicsArt_1431045468501

PicsArt_1430911536113

PicsArt_1430911604095

PicsArt_1431045603358

—–
PicsArt_1431607082172[1]

PicsArt_1430911816609

PicsArt_1430911720841

PicsArt_1431606974541[1]

PicsArt_1430923906935 - Copy

PicsArt_1430923997918

PicsArt_1430923826538

PicsArt_1431045746147

PicsArt_1431608362381[1]

Menurutku pulau dan pantainya cukup indah, bisa dilihat dari jepretanku yang ala kadarnya. Sarana dan prasarana di sini pun sudah cukup memadai. Ada masjid, puskesmas, tempat olah raga tempat makan, kamar mandi dan wc umum. Namun, pada beberapa tempat banyak sampah yang mengotori pulau indah ini. Pada akar pohon mangrove banyak tersangkut sampah plastik, pemandangan yang menyedihkan.

PicsArt_1431606917210[1]

PicsArt_1430924079747

PicsArt_1430924130558

PicsArt_1431608485334[1]

PicsArt_1430924215160

PicsArt_1431045694923

Puas berkeliling dan main ombak akupun kembali ke dermaga tempat kedatanganku tadi. Oya, di pulau ini juga terdapat penginapan. Beberapa rumah warga setempat disewakan untuk para wisatawan yang ingin menginap di sana. Berhubung saat itu aku hanya one day trip, aku tidak bisa berlama-lama di sana. Sebelum aku turun di Tanjung pasir, pak sopir bilang kalau sudah sore, angkot putihnya tidak beroperasi lagi. Tidak lama setelah kapal terisi, kami pun kembali menyeberang ke Pelabuhan Tanjung Pasir.

PicsArt_1430911915878

Sepanjang perjalanan pulang, kami diantar rombongan burung yang berkelompok beriring terbang di langit yang biru. Aku mencoba menangkap mereka dengan kamera hpku, namun selalu saja terlambat. Burung-burung tersebut berasal dari Pulau Rambut yang berada di sebelah pulau untung jawa. Kalau mau melihat mereka lebih dekat, kita harus menyeberang lagi dengan kapal. Untuk saat ini aku cukup melihat mereka dari atas kapal pulang ku saja.

PicsArt_1431607153306[1]

PicsArt_1431044920387

PicsArt_1430912189478

PicsArt_1430912009355

Turun dari kapal, ketemu kucing ini kirain tewas, ditowel-towel ternyata cuma tidur di tengah jalan. ckckck.

PicsArt_1431046032957

Perjalanan pulang dari Tanjung Pasir, naik Elf, banyak sawah dan siring irigasi. Sedihnya, air siring itu dipakai untuk mandi, cuci, kakus warga sekitar siring tersebut.

PicsArt_1431607262252[1]

PicsArt_1431607306248[1]

Sekian dulu catatan jalan-jalanku. Semoga nanti bisa kembali ke sini dengan keadaan yang makin baik.

NB: aku banyak terbantu dari sini. Kalo ada yang mau tau jalannya ke Untung Jawa, silahkan dioprek2.

My First Planetarium..^^

Niat awal ke Ibukota itu mau ikut tes TOEFL di LB UI dan Kursus ACLS. Udah daftar, dapat jadwal tes sama kursusnya n beli tiket terbang, eh liat di timeline twitter ada iklan ini, penoropongan bintang. Pas liat tanggalnya langsung hepi, karena pas dengan jadwal tes n kursus. 1425026021 Di Jakartamu. Disambut hujan deras, alhamdulillah tiba di tempat tes 08:55 BBWI. Hehe. Hampir telat. … … … Tesnya selesai, waktunya belajar untuk Kursus ACLS esok hari. Hehe. Itu bohong, sodara-sodari. Setelah puas tour de RSCM sampe nyasar sendiri, aku pun membulatkan tekad untuk melihat bintang. Berbekal GPS n nanya-nanya sama rumput yang bergoyang, sampelah di Planetarium Cikini. Lumayan deket siy, cuma kalo ga ngerti jalan ya jauh juga. Ini penampakan planetariumnya, dari jauh kubahnya bisa keliatan. IMG_20150326_143741 Pas di dalem, masih sepi. Ternyata peneropongan bulan dan mars itu ga ada, hiks. Padahal saat itu udah ga hujan dan mendung-mendungan lagi. Sebenernya pengen demo, kenapa ga ada peneropongan, padahal di promosinya ada. Tapi berhubung tempatnya asyik, ga jadi deh protesnya. Karena masi sepi, aku bisa keliling-keliling planetariumnya sesuka hati. Isinya macem-macem. Monggo diintip.. IMG_20150326_144224. IMG_20150326_144504 IMG_20150326_144420 Miniatur benda langit di sini ngingetin sama yang ada di pameran 99 names of Allah di Madinah. Bikin merinding kagum, betapa kecilnya kita di dunia Milik-Nya. IMG_20150326_144744 IMG_20150326_144322 IMG_20150326_145525

Sekitar pukul 3 mulai banyak anak-anak usia TK-SD-SMP yang berdatangan ke planetarium ini. Ada yang dari sekitar jakarta, ada pula dari daerah lainnya seperti Cirebon, Blora dan Salatiga. Loket pendaftaran untuk pertunjukan pun dibuka. Harga tiket sangat amat terjangkau, Rp 7.000,- saja untuk satu orang dewasa. Waktu pertunjukan pun tiba. Kami dipersilahkan masuk ke dalam ruangan yang hampir mirip bioskop, bedanya layar tidak ada di depan kita, tetapi di atas kepala kita. Bentuknya pun setengah bola seperti kubah masjid. Kursi dipilih sesuka hati, karena memang pada saat pembelian tiket tidak ada penomoran kursi seperti di bioskop.

Di dalam ruangan pertunjukan tersebut, sebelum acara utamanya dimulai, tiba-tiba seorang Ibu Muda menegur sambil meneliti mukaku dengan seksama, “Mbak, namanya siapa? kerjanya apa?Asalnya dari mana?”

Ditanya seseorang yang tidak kukenal di tempat yang baru sekalinya kumasuki, pertanyaan tersebut cukup aneh. Eh, si Ibu Muda malah duluan bilang, “dari palembang ya? kerja di kesehatan ya?”

Ibu muda ini pasti dukun pikirku. Dengan muka melongo aku cuma mengangguk heran. Ternyata eh ternyata, karena aku ini cerobohnya bukan main dan hobi menjatuhkan barang, Ibu ini menemukan dompetku yang terjatuh tidak jauh dari tempat duduknya. Si ibu memeriksa ID card di dalam dompet itu. Akupun baru tersadar saat si ibu memintaku untuk memeriksa apakah dompetku yang sudah berumur itu ada di dalam tasku. Alhamdulillah si Ibu baik hati mau repot-repot mencari pemilik dompet yang ceroboh itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah aku. Kalau sampai hilang atau ditemukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, aku bisa dibuat repot bukan kepalang. Terima kasih Ibu yang baik hati, semoga Allah SWT membalas kebaikan Ibu.

IMG_20150326_162424

Pertunjukan pun dimulai. pintu ditutup, lampu mulai dimatikan. Seketika aku seperti berpindah tempat, dari dalam ruangan berkubah putih ke lapangan luas beratapkan jutaan bintang. Indaaaaaaaahhh sekalii. Sungguh. Betapa aku ingin pergi ke tempat seperti itu. Bisa melihat bintang dan benda langit lain sambil berbaring, itu pasti sangat menyenangkan. Tetapi, menurut Mamas Pembawa acaranya, kalau di kota akan sulit untuk melihat jutaan bintang seperti itu, karena cahaya lampu di kota menghalangi penglihatan kita terhadap bintang tersebut. Sama seperti yang dibilang Pakcil juga siy. Selama pertunjukan mamas pembawa acara juga menjelaskan tentang planet-planet dan benda langit lainnya. Menarik. Seandainya bisa benar-benar diteropong secara langsung pasti makin menarik. Hehe. Oya, aku sempat mencoba mengabadikan pemandangan di dalam ruangan pertunjukan tersebut, saat jutaan bintang berpendar di atas kepalaku, sayangnya tidak bisa.

Pertunjukan pun selesai. Ditandai dengan pulangnya roket yang membawa kami ke bumi setelah puas mengelilingi galaksi bimasakti. Tertarik untuk melihat pertunjukan? Datang aja ke planetarium ini. Untuk jadwal dan biayanya bisa dilihat di gambar di bawah ini.

IMG_20150326_160102

IMG_20150326_152229

Sebiduk di Sungai Pengumbuk

Pengumbuk adalah nama sungai yang terdapat di Dusun Pengumbuk Desa Tebing Abang Kecamatan Rantau Bayur Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan Indonesia. Asal mula nama Pengumbuk bisa dibaca di sini.

Beberapa hari yang lalu, sungai Pengumbuk diramaikan oleh kegiatan internasional yaitu Musi Triboatton 2013. Kegiatan ini diadakan pada tanggal 16-22 November 2013.

Musi triboatton merupakan ajang olahraga dan wisata air yang telah dilaksanakan kedua kalinya di wilayah Sumatera Selatan. Seperti triathlon, trriboatton terdiri dari tiga perlombaaan yang menggunakan perahu, yaitu rafting, canoe, dan dragon boat. Rute musi triboatton mengikuti aliran Batanghari Sembilan yang bermuara ke Sungai Musi. Berawal dari Kabupaten Empat Lawang, kemudian Musi Rawas, Musi Banyuasin, Banyuasin dan terakhir Kota Palembang.

Pengumbuk merupakan pemberhentian terakhir sebelum peserta tiba di Palembang. Peserta Musi Triboatton sendiri disambut dengan semarak di Dusun Pengumbuk Banyuasin. Sekitar 15 mother boat yang membawa peserta Musi Triboatton tiba pada tanggal 21 November 2013. Para peserta yang berasal dari berbagai bangsa pun berlaga di Sungai Pengumbuk. Diawali dengan rafting, menggunakan perahu karet yang terdiri dari 5 orang pedayung, canoe dengan 2 orang pedayung dan terakhir dragon boat dengan 10 orang pedayung. Para peserta mengadu kekuatan, ketangguhan fisik dan mental mereka. Peserta Musi Triboatton selain berkompetisi untuk mendapat gelar juara, mereka juga diajak untuk menikmati pemandangan dan budaya asli dari daerah yang dilewati. Setelah bertanding, para peserta Musi Triboatton beristirahat sembari melihat pertandingan bidar lokal yang diikuti oleh masyarakat setempat. Tidak lupa hiburan berupa kesenian dan kuliner khas Kabupaten Banyuasin juga ramai disajikan di sini.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Kloter Delapan Palembang

Tahun ini aku bertugas menemani jemaah haji kloter 8 dari embarkasi Palembang. Nikmat Allah yang begitu besar kudapatkan kali ini. Alhamdulillah. fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzibaan.

Petugas kloter delapan yang berangkat menemani ada 5 orang, yaitu 1 orang ketua kloter, 1 orang pembimbing ibadah haji, 1 orang dokter dan 2 orang perawat. Awalnya jumlah jemaah 355 orang, namun karena ada jemaah pada saat pemeriksaan kesehatan terakhir diketahui hamil 9 minggu, jemaah yang dinyatakan layak berangkat sebanyak 353 orang. Jemaah yang berangkat beragam asalnya, dari Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Oku Selatan, Kabupaten Banyuasin, Kota Palembang, dan Jambi.

Semua cerita ada di sini. Cerita bahagia, canda, tawa, suka, duka, sedih, rindu, dan lainnya. Keluargaku yang baru, sangat besar sekali 358 orang bersama selama hampir 40 hari. Aku mempunyai banyak kakek dan nenek, ibu dan ayah, paman dan bibi, serta adik dan kakak di sana. Ah, rindunya saat-saat bersama mereka. :’)

image

Foto ini diambil ketika calon jemaah haji tiba di asrama haji palembang. Di sini jamaah didata, diberi penyuluhan dan diperiksa kesehatan terakhir oleh petugas KKP. Untuk calon jemaah perempuan usia subur dilakukan pemeriksaan kehamilan. Setelah diperiksa didapat data bahwa ada beberapa calon jemaah haji yang membutuhkan pengawasan kesehatan selama penerbangan nantinya dan calon jemaah haji yang dibatalkan keberangkatannya karena hamil. Usia kehamilan yang dibolehkan untuk penerbangan adalah trimester kedua atau sekitar 16-24 minggu.

image

image

image

Penerbangan dari Bandara Sultan Mahmud Badarudin 2 Palembang menuju Bandara King Abdul Aziz Jedah memakan waktu kurang lebih 8 jam. Kami berangkat pukul 18.00 WIB dan tiba pukul 23.00 WAS. Alhamdulillah selama penerbangan, calon jemaah tidak ada yang sakit berat. Keluhan terbanyak adalah mabuk udara, batuk, sesak nafas, pusing, kelelahan, dan kedinginan. Tugas TKHI selama penerbangan selain kuratif adalah promotif dan preventif, aku mendapat tugas memberi penyuluhan mengenai kesehatan selama penerbangan. Setelah berkenalan dengan purser dari Pesawat Garuda Indonesia, aku diberi izin untuk memberi penyuluhan melalui kabin. Pembimbing ibadah haji dan ketua kloter pun bergantian membimbing doa dan ibadah selama di atas pesawat.

image

20130927_234944

image

image

Yang mau berobat, antri yaa.

image

20131012_204629

Sektor 8 Mekkah

Sektor 8 Mekkah

image

image

803 Bakhutmah

803 Bakhutmah

image

DSCN0769

IMG-20131104-WA025

DSCN0818

DSCN0828

DSCN0824

image

image

20131013_174649

Posko Satgas Arafah

Posko Satgas Arafah

image

image

image

DSCN0878

image

DSCN0891

DSCN0946

DSCN0907

image

Madinah

Madinah

IMG_20131029_161214

IMG-20131109-WA0016

IMG-20131109-WA0001

IMG-20131104-WA018

1383377786638

1383294454864

1383294023608

IMG-20131109-WA0063

IMG-20131109-WA0000

IMG_20131031_083546

IMG-20131109-WA0071

IMG_20131031_080351
Oya, untuk petugas tkhi tahun 2014 ini pendaftarannya sudah dibuka lho. Yang berminat bisa baca di sini ya.

Berburu ubur-ubur, eh lumba-lumba di Teluk Kiluan

Gerbang inilah yang kami nanti-nantikan setelah (mencoba) menikmati kurang lebih 11 jam perjalanan dari Palembang ke Teluk Kiluan Lampung. Akhirnyaaa….

CIMG0621

Teluk Kiluan berada desa Kiluan Negeri Kecamatan Kelumbayan Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. Kalau di lihat di peta, letaknya berada di paling bawah dari pulau Sumatera. Jarak tempuh dari Bandar Lampung sekitar 3 jam perjalanan bila menggunakan mobil. Medan yang ditempuh cukup sulit (apalagi saat itu sedang musim hujan alias November rain), jalanan banyak lubang, becek, naik dan turun bukit, dan terdapat jurang di pinggir jalan. Namun semua perjuangan tersebut terbayar lunas ketika tiba di tepian Teluk Kiluan…

DSC04030

Sebenarnya tempat ini adalah sejenis dermaga tempat kami akan menyeberang ke lokasi kami akan menginap. Perahu di atas adalah perahu jukung. Perahu sederhana, bentuknya langsing ditopang dengan 2 kaki di kanan dan kiri, serta bertenaga mesin kecil.
Hebatnya, perahu kecil ini mampu membawa kami delapan orang sekaligus. Hehe.

CIMG0630

Setelah sekitar 10 menit kami menyeberang dengan menggunakan jukung, kami pun tiba di pondokan tempat kami menginap, Pondok Anak Abah namanya. Begitu tenang. Tidak ada listrik (malam hari menggunakan genset) maupun sinyal telepon. Begitu bebas dari hiruk-pikuk dunia.

CIMG0769

Hijau, biru, putih dan segala warna indah lainnya menyambut kami di sini. Cukup satu kata, menenangkan.

CIMG0967

CIMG0966

CIMG0930

DSC04102

DSC04096

CIMG0695

Meskipun liburan, bukan berarti makannya juga libur ya. Di sini, bukan hanya mata yang dipuaskan, namun urusan perut pun tidak kalah juaranya. Dari pondok anak abah, ada ibu-ibu yang siap menyediakan makanan yang enak-enak. Tentu saja menu laut yang jadi andalan mereka. Malam hari pun kami disuguhi ikan lemadang BBQ yang Top Markotop bin Maknyus (Pak Bondan, pinjem istilahnya ya). Biasanya lobster jadi menu di sini, namun kami belum beruntung saat itu. hiks.

DSC04045

DSC04041

DSC04157

CIMG0742

Perburuan lumba-lumba dimulai keesokan harinya. Sekitar pukul 6.30 wib kami siap menuju laut lepas. Satu jukung hanya boleh ditumpangi 3 sampai 4 orang saja, dan wajib memakai life vest. Perjalanan sekitar 30 menit menantang matahari yang sedang terbit dari garis lurus laut. Lebih dari 20 jukung berangkat pagi itu, tujuannya satu, melihat sang lumba-lumba menari bebas di alamnya. Dan kami sangat beruntung pagi itu, rombongan lumba-lumba menyambut kami dengan meriahnya. Mereka melompat, berputar, berenang di sekitar kami. Subhanallah, indahnya. Ingin rasanya ikut berenang bersama mereka. Aku sempat bertanya dengan sopir jukung, “Boleh ga berenang di sini?”. Sang sopir jukung menjawab kalem, “boleh aja mbak, tapi di sini bisa jadi ada hiunya.” Aku pun mengurungkan niatku. Hehe. Ini foto-foto si lumba-lumba yang sempat tertangkap kameraku.

CIMG0820

CIMG0887

CIMG0885

CIMG0874

CIMG0872

CIMG0839

CIMG0916

Setelah puas bercengkrama dengan lumba-lumba, kami pun menyapa karang, koral, ikan, dan penghuni pantai dengan ber-snorkeling ria. Saranku jangan menjerit kegirangan di dalam air ketika melihat Patrick Starfish, si Finding Nemo, ataupun lion fish di sini, karena bisa membuat kita tertelan air laut yang asiiiiiinn (pengalaman pribadi). 😀

CIMG0955

Finally, berburu lumba-lumba dan semua kesenangan di Teluk Kiluan harus di akhiri. Liburan harpitnas udah abis, mari pulang ke habitat masing-masing. Next time, I’ll be back there, Insya Allah. Ohiya, last word, terima kasih @kiluandolphin. 🙂