“Selamat siang, saya dari PT. SG. Kami membutuhkan seorang dokter untuk klinik kami di Villa Melati. Jam kerjanya dari pagi sampai sore aja. Kalau dokter bisa, besok ikut kami meeting di sana”.

Dengan sedikit bingung akhirnya aku pun mengiyakan saja tawaran tersebut. Mungkin hanya sebentar, pikirku. Mungkin hanya klinik biasa, batinku lagi. Dan ternyata, pikirku dan batinku tidak benar selalu.

………….

Keesokan harinya, aku pergi ke Villa Melati yang berjarak sekitar 3 km dari kediamanku. Dengan kostum “dokter cewek yang manis abis” tentunya (yang kemudian aku sadari itu adalah kostum yang salah). Setiba di sana aku disambut hangat oleh Bapak Party Chief, Chief Departement HSE dan Paramedic dari PT. SG. Kesan pertama, canggung sekali. Perempuan ditengah-tengah banyak lelaki. Tetapi, the show must go on. Dan shownya ternyata bukan di villa melati, sodara-sodara. Entah siapa yang salah, aku yang salah dengar atau mereka yang salah memberi kabar. Ternyata Kick Of Meeting-nya bukan di villa tersebut, tetapi di salah satu Hotel yang ada di Kota. Sekitar 50 km dari villa ini. Dooeengg!! Bersama rombongan tadi akhirnya kami berangkat ke hotel tersebut. Tiba di hotel, aku pun diperkenalkan dengan dokter dan tim kesehatan dari PT. M yang merupakan klien dari PT. SG. Sepertinya dokter itu sedikit heran dengan adanya dokter perempuan yang bersedia ikut di proyek itu (Yah, aku sendiri pun heran dengan diriku, apalagi mereka). Mereka mencoba menerangkan sedikit tentang proyek yang aku akan ikuti. Usaha yang lumayan batinku, setidaknya aku tidak lagi meraba-raba dalam gelap tentang apa tanggung jawabku nanti.

Image

Ternyata yang aku ikuti saat ini adalah suatu proyek pencarian titik-titik minyak bumi di Blok Rimau Sumatera atau yang lebih dikenal dengan seismik. Dunia yang sangat asing untuk ukuran dokter “biasa” seperti aku. Yang termasuk biasa itu maksudnya dokter yang hanya bekerja di lingkungan pengobatan saja, lebih banyak bermain di care and cure. Tetapi di sini, aku juga dituntut untuk promotif dan preventif, atau istilahnya bergerak lebih ke hulu. Menjaga kesehatan dan keselamatan para pekerja yang ikut dalam proyek tersebut. “Tidak banyak koq, hanya sekitar 1000 orang”, kata Mas Anang dari bagian Topografi, yang duduk di sebelahku mencoba menjelaskan. Aku hanya bisa melongo mendengarnya. Kurang lebih 1000 orang yang akan aku jaga status kesehatannya. Angka yang….WOW! Mas Anang juga menjelaskan secara singkat tahapan-tahapan proyek seismik itu, dimulai dari topografi, rintis bridging, bahan peledak, drilling, recording, dan lain-lain. Intinya, pekerjaan yang akan dilakukan adalah membuka lahan yang masih perawan, menyiapkan tempat untuk pengeboran, menggunakan benda-benda tajam, dan alat-alat berat lainnya. Yummy, seems delicious ya kerjaannya. Meeting selesai, artinya proyek dimulai. And the story goes. 🙂

………..

Dimulai dengan beres-beres markas dan peralatan perang selama proyek berlangsung. Di sini tim kesehatan bersama-sama dengan Departemen HSE. Tim kesehatan ada aku sebagai dokternya dan Kang Herry sebagai paramediknya. Lagi-lagi menjadi penyamun di sarang perawan. Tetapi mereka sangat baik dan hormat, sehingga aku pun menjadi tenang. Mereka mengerti kalau ini adalah pengalaman pertamaku, sehingga mereka pun tidak bosannya menjelaskan dan membantu kalau ada yang tidak aku mengerti.

Saat itu klinik belum dibangun, masih menyatu dengan ruangan HSE, masih sangat terbatas dalam ruang geraknya. Meskipun belum memadai, yang berkunjung sudah mulai ada, baik yang mau berkonsultasi tentang kesehatan, berobat, ataupun curhat. Mengenai alat perang, PT. SG mempunyai obat-obatan dan peralatan yang cukup lengkap dari proyek sebelumnya di Kupang, membuatku bisa bernafas lega, karena tidak perlu pusing memikirkan obat-obatan.

Kesibukan pun dimulai, pertama yang dilakukan adalah membuat Medical Evacuation Respons Plan (MERP), bersama HSE kami merancang alur yang akan diambil bila terjadi kegawatdaruratan di lokasi proyek. Mencari kontak rumah sakit terdekat serta rumah sakit untuk rujukan dan kemudian membuat perjanjian kerjasama. Ketika MERP telah disepakati oleh semua pihak, MERP diuji coba ke lapangan dengan Medivac Drill, dimana tim Medik dan HSE merancang suatu kasus gawat darurat, dan tidak diketahui oleh staff lainnya. Seperti contoh, diambil kasus kru rintis bridging yang jatuh dan mengalami patah tulang. Disini dinilai kesigapan para kru di lapangan, medik, mandor, komunikasi radio, ambulan, mapping lokasi, dan sistem perujukan. Pada saat medivac drill, akumemantau keadaan korban melalui komunikasi radio dan telepon seluler. Pengalaman baru buat aku, maenin radio. Hehehe. SG 01 Base Camp. Dikopi. Roger. 🙂

Image

Selain Medivac Drill, ada juga Fire Drill suatu latihan untuk menghadapi bahaya kebakaran. Disini tim medik berperan dalam persiapan obat-obatan dan ambulan. Lucunya, pada fire drill pertamaku, aku dan kang Herry malah ikut latah berkumpul ke muster point bukannya menyiapkan obat-obatan dan ambulan. Hahaha. Ada juga kejadian lucu lainnya, ketika bell kebakaran dibunyikan, semua aktifitas harus dihentikan, dan semua penghuni BC harus berkumpul ke muster point. Tidak jarang, ada yang sedang mandi harus keluar hanya dengan sehelai handuk saja, ada yang sedang tidur harus keluar dengan rambut acak-acakan dan mata mengantuk, dan bermacam gaya lainnya. Disaat kami berkumpul di MP, tim evakuasi bergerak memastikan kelengkapan jumlah personel BC, dan tim pemadam yang bertugas memadamkan sumber api.

Kesibukan selanjutnya adalah pada perekrutan tenaga kerja dibutuhkan adanya Medical Check Up (MCU) untuk mengetahui status kesehatan tenaga kerja sebelum bekerja. Sehingga kami pun membuat perjanjian kerja sama dengan Balai Laboratorium di kota, untuk memeriksakan status tenaga kerja yang ada. Pemeriksaan MCU dibedakan menjadi 3 jenis, disesuaikan dengan pekerjaannya saja, Yaitu Staff (Pemeriksaan fisik, rekam jantung, rontgen thorax, urinalisa, dan darah sederhana), Food handler (Pemeriksaan fisik, rekam jantung rontgen thorax, urinalisa, darah sederhana, analisa feces, dan widal), dan Driver (pemeriksaan fisik, rekam jantung, rontgen thorax, urinalisa, darah sederhana, visus, ishihara test, dan audiometri). Tugasku, menentukan apakah tenaga kerja tersebut layak untuk bekerja sesuai dengan status kesehatannya. Selain MCU, juga ada Physical Examination (PE) untuk kru lapangan. Mengingat kru lapangan mudah sekali berganti-ganti, disepakati untuk kru tidak dilakukan pemeriksaan lengkap MCU. Tidak efektif dalam hal biaya, begitu alasan mereka. Bisa dihitung, satu kali MCU di Balai Laboratorium bisa mencapai 300-500 ribu rupiah, bila semua tenaga kerja hingga kru ditanggung, berapa banyak biaya yang dibutuhkan. Sehingga, diambillah jalan tengah yaitu PE, dimana kru diperiksa vital sign, visus, dan pemeriksaan fisik sederhana.

Tugas lainnya adalah memberi materi First Aid Training (FAT) untuk para pekerja dan kru lapangan yang ada. Adapun materi yang diajarkan adalah pertolongan pertama pada kecelakaan, baik itu luka tusuk/robek/bakar, patah tulang, gigitan binatang buas, sengatan listrik, pingsan, tersedak dan lainnya. FAT diberikan bersama dengan Induksi, setiap tenaga kerja baru harus melewati dua tahap ini terlebih dahulu guna meningkatkan pengetahuan dan kesadaran dari para pekerja mengenai kesehatan dan keselamatan selama mereka bekerja.

Selain memberi FAT, aku juga mempunyai kewajiban memberi materi Food Handler Training untuk para koki, helper dan utility di dapur. Materi yang dipilih pun tidak jauh dari makanan, dimulai dari pemilihan, penyimpanan, pengolahan, penyajian, dan lainnya. Training ini diberikan satu bulan sekali. Diharapkan dengan adanya training ini, didapatkan perubahan perilaku dari yang tidak baik menjadi perilaku yang baik dari para kru dapur. Contohnya, training tentang food storage yang baik, 7 langkah mencuci tangan, membuang sampah pada tempatnya, food borne disease dan materi-materi lainnya.

Berbicara di depan umum adalah kelemahanku, sulit sekali rasanya, tetapi di lain pihak aku juga merasa bersemangat untuk itu. Di sini aku (merasa) dituntut (oleh diriku sendiri) untuk lebih memahami mengenai hiperkes, ilmu yang dulu pernah aku pelajari di bangku kuliah (yang sepertinya sudah menguap dari otakku). Bagaimana mengedukasi dan memotivasi para pekerja untuk bekerja dengan selamat dan sehat serta menciptakan lingkungan yang aman untuk mereka bekerja. Di sini aku juga mendapat kesempatan untuk belajar menyajikan dan menyampaikan materi-materi yang ada kepada para pekerja agar lebih mudah diterima dan dimengerti. Tidak terbayarkan betapa bahagianya aku bila mereka mendengarkan materi dengan seksama dan antusias bertanya tentang materi yang dibahas. Entah apa namanya, tetapi aku suka.

Selain training-training diatas, aku juga mempunyai kewajiban untuk melakukan Food Supply inspection, Kitchen Inspection dan camp inspection. Pemeriksaan bahan makanan yang dipasok setiap hari oleh para supplier untuk memastikan bahan makanan tersebut sehat dan layak konsumsi. Setiap pagi, parfumku berubah menjadi bau amis ikan dan ayam, haha. Pemeriksaan dapur juga dilakukan untuk memastikan kesehatan dan kebersihan pengolahan dan penyajian dari bahan makanan tadi. Personal hygiene kru dapur, kebersihan alat-alat dan dapur, alat pelindung diri/APD (tutup kepala, celemek, sarung tangan, sepatu dll), P3K, alat pemadam api ringan/APAR, merupakan item-item yang diperiksa setiap kali inspeksi dapur.

Setelah sekitar satu bulan, aku mulai ikut menginap di villa melati yang kami sebut Base Camp. BC terdiri dari 13 rumah, 1 ruang makan staff, 1 ruang makan klien, 1 tenda ruang makan untuk kru, 2 tenda untuk driver, 1 rumah untuk koki dan laundry. Aku menginap di kamar 11, bersama staff perempuan lain. Awalnya saling asing. Tapi lama-kelamaan jadi saling kenal dan lumayan dekat. Ada Ibu Ety, Kak Eni, Ias, Eby, Mb El, Mb Ita, Mb Eti, Mb End, Nur, Mb Ora n Mb Ewi. Di kamar 11 ada 2 ruang tidur, masing-masing diisi 2 tempat tidur tingkat. Untuk pertama kalinya aku tidur di atas, cukup was-was juga (takut bablas gelundungan), tapi alhamdulillah sampai sekarang tidurku aman terkendali.

Oya, setiap pagi di BC ada Toolbox Meeting. Semua penghuni BC wajib berkumpul pukul 06:45 wib, mendengarkan materi dan informasi-informasi yang disampaikan. Aku pun mempunyai jadwal untuk menyampaikan materi tentang info kesehatan. Dalam satu bulan, aku memberikan tiga kali info kesehatan, di TM staff, TM driver dan mekanik, serta TM SS. Semua harus berkumpul pukul 06:45, dan sarapan di-HARAM-kan setelah TM. Jadi bisa dibayangkan, bila satu rumah terdiri dari delapan orang, jam berapa kami harus bangun, antri mandi, bersiap, sarapan dan berdiri dengan manis saat bel TM dibunyikan. Satu hal yang saya suka dari TM, yaitu adanya Yel-Yel penyemangat yang selalu diserukan sehabis TM ditutup dengan doa. Yel “Safety First! Yes! Accident! No! Seismic! Luar Biasaaa..!!”, selalu bisa membuat aku tersenyum dan bersemangat di setiap pagi.

Selain TM, ada juga commitee meeting yang dilakukan setiap minggunya di hari sabtu sore. Di sana dibahas mengenai kemajuan operasional, hambatan/kendala yang ada, dan juga program-program HSE. Biasanya aku melaporkan statistik pasien yang berobat ke klinik, dan membahas kenapa ada peningkatan ataupun penurunan dari angka-angka tersebut. Yang aku bisa cerna dengan baik di committee meeting tersebut biasanya hanya dari HSEnya saja. Ketika sudah membahas mengenai operasional, aku akan manggut-manggut sok mengerti. Hehehe.

Antar HSE dan Medik juga ada pertemuan, dijadwalkan setiap minggunya di hari rabu. Biasanya dikumpulkan medik lapangan, mandor, dan juga HSE lapangan. Disana kami membahas kendala-kendala yang dihadapi para HSE dan Medik yang berada di lapangan. Seperti obat-obatan, penyakit yang banyak diderita, perlengkapan APD yang kurang, dan lainnya. Tidak jarang juga, kami memberikan materi FAT dan materi kesehatan lainnya guna me-refresh pengetahuan para mandor dan medik lapangan tersebut.

Di BC juga ada kegiatan-kegiatan sosial yang diadakan untuk menghibur para staff dan kru. Diantaranya adalah olahraga sore, seperti badminton, futsal, bola voli, acara silaturahmi lebaran, lomba 17 agustus, tahun baru, donor darah, memancing, dan kegiatan-kegiatan positif lainnya.

Aku merasa bersyukur sekali berada di proyek seismik ini. Aku merasa sangat senang bisa bertemu bermacam-macam aktivitas dan beragam orang di sini. Tak terasa setahun lebih proyek ini berjalan, dokternya tidak hanya aku, tetapi ada dokter Fah dan dokter Afr. Begitupun paramediknya, Kang Herry, Pr Al dan Pr Muj. Bersama tim HSE, Pak Soe, Pak Ade, Babeh Sin, Pak Ndi dan Eby. Tim yang (eerr) (cukup) solid. Orang-orang yang sempat singgah dan akan terus menetap di hati, Pak Wan, Kang Unay, Pak Dan, Mas Jar, Mommy n Beruangku, Mas Gus, Pak And, Ipin, Sul, Ibu Rus, Ibu Yan, Rul, Pak Waw, Pak Kar, Dwi, dan semuanya.

Beruntungnya aku sempat memiliki mereka. Mungkin mereka tidak menyadari itu, tetapi aku sadar penuh, bahwa aku bahagia di sana, bersama mereka. Ketika kudengar bahwa proyek akan tutup, hatiku sedikit mencelos (padahal ga tau arti mencelos itu apa). Sedih, iya. Kehilangan, iya (mellow mode on). Tetapi, ketika ada pertemuan, pasti ada pasangannya yaitu perpisahan. Semua harus melaju, begitupun aku, begitupun mereka. Terima kasih untuk semua tawa penyembuh duka. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah kalian lakukan untukku. Amiin. :’)

Selamat datang di Planet Seismik..

Iklan